......

SELAMAT DATANG DI DENDE SASAK'S BLOG,SEMOGA APA YANG ADA DIDALAMNYA BERMANFAAT UNTUK KITA...AMIN

Jumat, 04 November 2011

puisi

titik temu

oleh Zaida Sofiana pada 10 Juli 2011 jam 17:02
senyum itu...kehangatan yang terukir dari rekah diwajahmu..

andai ku tahu saat sepiring nasi dan
seonggok ikan tanpa bumbu mencoba
menyampaikan kabar duka untukku..

andai dapat kubaca pesan
dari menghadap ketimur
saat kau ucap kata-kata bijakmu..

ingin rasanya kuhalau larik-larik kebisuan
yang kucipta senja itu...

jika kuingat pagi yang ganjil
merangkak,membungkus nyanyian merpati
dan membawamu pergi...

adakah kau tahu...
rumah yang dibawah daun coklat harum itu...
yang dahulu menjadi istana bagi kami
tiga bocah nakal yang selalu mencuri bolu coklat itu

kini telah menjadi sarang bagi kegelapan
bagi api
bagi dusta
bagi diam
dan bagi kehilangan yang mengengat...

(syair rindu untuk alm.mbah eny...semoga Alloh berkenan membalas kebaikanmu..)

Curhat


BUKTI AKURAT,TRADISI SELAMAT
Indonesia adalah Negara kepulauan yang sangat katya akan adat istiadat serta budaya. Dari ujung timur (papua) hingga ujung barat (sumatera), masing-masing memiliki ragam budaya serta adat istiadat masing-masing. Masing-masing daerah ini, memegang dan mempertahankan adat-istiadat serta budayanya dengan  usaha yang beragam.
Tidak ketinggalan pula Lombok sebagai salah satu pulau kecil yang terletik di timur pulau Bali, Lombok terkenal dengan keindahan pantainya,kekayaan alam yang melimpah,keramahan masyarakat serta keteguhan masyarakat suku Sasak sebagai satu-satunya suku di sana untuk mempertahankan adat.
Dalam beberapa kegiatan, masyarakat sasak memiliki aturan adat yang senantiasa dijaga kelestariannya, adat ini kemudian menjadi ciri khas tersendiri bagi masyarakat Sasak. Seperti pada adat Selarian atau Merarik pada saat menikah yang kemudian dirangkaikan dengan Sorong Serah dan Nyongkol,Mbau Nyale pada saat-saat tertentu, Perak Api saat memberi nama bagi anak yang baru lahir.
Selain itu, masyarakat suku sasak juga memiliki kesenian tradisional yang sangat unik yakni Presean atau bertarung dengan rotan memang sudah dikenal masyarakat Lombok sejak lama. Budaya yang penuh dengan kekerasan ini berubah menjadi unik ketika dipadukan gaya bela diri yang unik dan lucu dari pemainnya.
Dengan bertelanjang badan dan sebuah rotan di tangan kanan serta sebuah perisai yang terbuat dari kulit binatang di tangan kiri, dua orang pemuda yang dikenal dengan nama pepadu ini bersiap saling mengadu kejantanan didepan ratusan penonton yang mengelilingi mereka diluar arena.
Namun, yang menjadi masalh saat ini adalah. Masyarakat hanya melaksanakan tanpa melestarikan yang disebabkan kurang tersedianya pembukuan dari setiap adat istiadat serta kebudayaan yang berlaku dalam masyarakat Sasak. Sampai saat ini, nyaris tidak ada buku yang khusus membahas tentang Lombok, etnis serta kehidupan masyarakat Sasak. Padahal tulisan merupakan salah satu cara yang tepat untuk melestarikan serta menjaga keakuratan berita.
Saat ini, banyak sekali kesalahan dalam penceritaan tentang adat yang berlaku pada masyarakat Sasak, terutama adat Merarik atau Selarian pada saat menikah. Oleh masyarakat luar Sasak, sering di salah artikan sebagai melarikan anak Gadis orang oleh seorang laki-laki yang kemudian dibawa ke suatu tempat dan bukan kerumah keluarga. Hal ini di terjadi sebab, orang-orang dari luar Sasak hanya mendapat kabar dari mulut-kemulut bukan dari kitab adat atau buku yang memiliki keakuratan dala penceritaannya.
Bagitu juga halnya terhadap Folkrol(sastra lisan) yang dimiliki oleh masyarakat sasak seperti Putri Mandalike, Naicili, Bunut Baok, Lampit dan sebagainya yang saat ini dapat dikatakan hamper punah sebab tidak dibukukan. Padahal tradisi Becerite (mendongeng) dalam masrakat suku sasak pada saat ini sudah hampir tidak berlaku lagi. Akibatnya, sastra lisan ini semakin jarang ditemukan dimasyarakat dan banyak generasi muda suku sasak yang tidak tahu tentang cerita-cerita dari daeraak mereka sendiri.
Maka tidak mengherankan jika masyarakat yang berasal dari luar suku sasak yang salah menafsirkan budaya Sasak sebab mereka tidak memiliki referensi yang jelas, akurat dan terpercaya tentang suku Sasak. begitu juga dengan orang yang ingin mengangkat tema suku Sasak sebagai Skripsi atau bahkan Tesis, banyak diantara mereka mengurungkan niat sebab buku- buku yang harus dijadikan acuan belum tersedia.
Perlu diingat bahwa adat-istiadat serta budaya tentu tak lepas juga dengan kesusastraan. Sastra merupakan cermin dari masyarakat. Sastra adalah suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni, oleh karena itu sastra dapat dijadikan sebagai salah satu media untuk melestarikan nilai-nilai luhur adat-istiadat dan budaya. Mengapa demikian? Ya, karena dengan karya sastra, penulis dapat menyampaikan pesan kepada halayak tentang segala sesuatu termasuk yang berkaitan dengan nilai-nilai adat istiadat dan budaya masyarakat yang mungkin jika disampaikan dengan lisan atau secara blak-blakan dapat menimbulkan kesalah fahaman. Namun dengan sastra, dapat dilakukan pembinaan secara halus dengan karya-karya yang bernilai budaya tinggi.
Membaca karya sastra berarti menikmatikehidupan atau kebudayaan yang berlaku dalam masyarakat. Didalamnya berisikan nilai yang akhirnya mewarnai karya sastra tersebut dalam konteks sejarah dan sosial budaya suatu bangsa(Pradopo, 2005). Oleh sebab itu budaya menulis sangat disarankan bagi seluruh generasi sasak. baik itu karya sastra maupun non-sastra. Sebab dari buku-buku yang ditulis tersebut, masyarakat yang berasal dari luar suku Sasak dapat mengetahui secara benar seperti apa dan bagaimana suku Sasak yang hampir 100% menghuni pulau Lombok yang indah.
Karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu mempengaruhi masyarakat (Semi, 1990:73). Maka disarankan untuk generasi suku Sasak untuk tidak segan-segan menuangkan ide kreatifnya dalam bentuk karya yang dapat bertahan lama yakni tulisan-tulisan atau bahkan buku yang dapat dibaca oleh khalayak baik itu bagi masyarakat suku Sasak maupun masyarakat diluar suku Sasak.

                                                                        Yogyakarta, 5 Novemmber 2011
                                                                                    Zaida Sofiana